
loading...
Makau terletak di sebelah barat Hong Kong. Atas undangan Hong Kong Tourism Board (HKTB) dan Macau Government Tourism (MGT), KORAN SINDO dan beberapa rekan media lain dari Indonesia dan media dari negara Asia Tenggara yakni Filipina, Malaysia, Thailand, dan Singapura mendapatkan kesempatan untuk menjelajah dan mengenal lebih dekat mengenai Hong Kong dan Makau pada 6-10 Mei 2019 lalu.
Setelah perjalanan 5 jam dari Jakarta dan satu malam di Hong Kong, rombongan pun berangkat dari Hong Kong menuju Makau dengan layanan bus lintas batas yang cepat dan nyaman. Bus ini membawa kami melintasi jembatan baru ikonis antara Hong Kong, Makau, dan Zhuhai yang menjadi jembatan dan penyeberangan terowongan laut terpanjang di dunia yang dibuka pada 24 Oktober 2018 ini ikut memberikan dorongan besar bagi pariwisata regional.
Baca Juga:
Jembatan megah dengan konstruksi kokoh ini menghubungkan Hong Kong dengan kota-kota di sepanjang Greater Bay Area di Tiongkok selatan, menghadirkan atraksi Makau dan Guangdong dalam jangkauan yang mudah dan menjadikan Hong Kong sebagai pusat bagi turis dari seluruh dunia untuk menjelajahi berbagai daerah yang menarik dan beragam.
Sekilas bila kita melihat ikon arsitektur Pemecah Rekor Jembatan ini merupakan jalan gabungan dan terowongan lintas laut pertama di Greater Bay Area, yang membentang di sepanjang laut dari pulau buatan di dekat Bandara Internasional Hong Kong menuju Makau dan kota daratan Tiongkok yaitu Zhuhai.
Dengan panjang 55 km, jembatan ini 20 kali lebih panjang daripada Jembatan Golden Gate di San Francisco. Baja yang terdapat pada jembatan ini cukup untuk membangun 60 Menara Eiffel dan dirancang untuk bertahan selama 120 tahun-dua dekade lebih lama daripada umur jembatan lintas laut yang paling utama.
Megaproyek ini akan menjadi landmark instan dan ikonis bagi Hong Kong dan Greater Bay Area, dan telah dinamai oleh Guardian sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Arsitektur Dunia Modern. Hadirnya jembatan ini tentu semakin mengonsolidasikan posisi Hong Kong sebagai pusat untuk perjalanan multitujuan di Greater Bay Area, yang mencakup sembilan kota di Provinsi Guangdong dan dua Daerah Administratif Khusus.
Ini mempersingkat waktu tempuh perjalanan dari Bandara Internasional Hong Kong menuju Zhuhai dari sebelumnya empat jam menjadi hanya 45 menit. Selain dengan bus yang melintasi jembatan Hong Kong, Makau, dan Zhuhai, cara termudah untuk ke sana adalah dengan naik kapal feri kurang lebih menempuh perjalanan selama 1 jam 15 menit untuk sampai di Bandara Internasional Makau di Pulau Taipa, dan perlu diingat kalau turis Indonesia tidak memerlukan visa untuk ke Makau.
Jam keberangkatan kapal feri dari Hong Kong pun sangat beragam dan selalu ada dari pagi hingga petang dalam interval keberangkatan tiap 1 jam. Jadi, bisa banget kalau mau berangkat ke Makau pada pagi hari dan kembali ke Hong Kong sore harinya. Lumayan kan, bisa berhemat dan tidak perlu menginap di Makau. Kita tidak perlu menukarkan uang ke Pataca Macau, mata uang Makau, karena di sana dolar Hong Kong juga diterima untuk pembayaran di seluruh penjuru Makau.
Ketika sampai di Makau, kita akan langsung merasakan perpaduan yang unik dan abadi antara Portugis dengan Asia Timur, baik dalam bangunan maupun kuliner khas mereka. Makau, negara yang kecil namun unik. Jika Hong Kong kental dengan peninggalan Inggris yang notabene mudah dipahami secara bahasa, maka Makau adalah peninggalan sejarah Portugis yang sangat menarik di Asia Timur.
Makau juga dikenal sebagai Little Lisboa in Asia , kepingan Lisboa (Portugal) di Asia. Pada masa itu pemerintahan Portugal yang menetap di Makau beragama Katolik, maka dibangunlah banyak gereja sebagai tempat ibadah di sana. Beberapa tempat atau bangunan pun menjadi saksi bagaimana Portugis kala itu membangun Makau dengan gaya seni tinggi dan bernilai hingga kini.
Jangan heran, Makau sering juga menjadi tempat tujuan wisata religi bagi umat Katolik. Senado Square, yang merupakan pusat Kota Makau, biasanya dipenuhi turis yang sedang bersantai. Jangan lupa untuk mengabadikan foto di sini ya, karena arsitektur bangunan di Senado Square sangat indah dan bentuk perpaduan dari arsitektur Eropa. Benar-benar akan merasakan suasana di negara Portugis.
Setelah itu, kita berjalan ke arah reruntuhan Gereja St Paul. Destinasi kali ini adalah bagian dari reruntuhan gereja kuno yang menjadi salah satu ikon wisata Makau. Rasanya belum ke Makau kalau belum berfoto di depan bangunan bersejarah reruntuhan Gereja St Paul. Di sebelah reruntuhan Gereja ST Paul, ada Kuil Na Tcha (Na Tcha Temple).
Kuil yang dibangun pada tahun 1888 dan dipugar kembali pada tahun 1901. Pembangunan kuil di dekat reruntuhan St Pauls yang lekat dengan Jesuits di Macao merefleksikan hubungan yang harmonis antarwarga dan komunitas dan menjadikan Macao contoh yang baik dalam kehidupan berbudaya dan kebebasan beragama.
Setelah berpuas dengan selfie di lokasi bersejarah tersebut, tak jauh dari reruntuhan Gereja St Paul, rombongan pun berkunjung ke Museum Makau yang memuat sejarah Makau dan di depan museum (yang sebelumnya banteng) ada banyak meriam yang moncongnya menghadap ke lautan yang bertujuan untuk menghalau musuh Portugis yang hendak mendekati Makau.
Selain itu, di sepanjang jalan menuju lokasi, banyak penjaja jajanan khas Makau, yakni portuguese egg tart. Jajanan dari Portugis ini berasa gurih dan dijual sekitar 4-5 dolar Hong Kong. Kemudian lanjut kita jalanjalan di Pulau Taipa. Kita akan menyeberangi jembatan Makau saat menuju ke Pulau Taipa dan tentunya akan merasakan embusan angin yang cukup kencang, untuk mengatasi masuk angin yang mungkin terjadi karena perjalanan ini.
Dari jembatan Makau, kita juga bisa melihat pemandangan ikonik yang lain, yaitu Macau Tower, dan kalau kalian suka memacu adrenalin kalian bisa melakukan bungee jumping dari Macau Tower. Vicente Domingos Pereira Coutinho, selaku Public Relations Executive Macau, yang menjadi guide kami selama menjelajahi Makau mengatakan bahwa Makau merupakan daerah yang unik karena adanya percampuran dua budaya yang begitu kuat, yakni Portugis (Eropa Barat) dan China (Asia).
Hal ini terlihat dari bangunan serta tradisi dan budaya yang begitu kental. “Makau adalah daerah yang indah memadukan dua unsur budaya Eropa Barat dan Asia Timur yang begitu kental. Unsur budaya, bangunan, bahasa serta ragam kuliner khas begitu autentik dan bisa ditemukan di Makau sehingga bisa merasakan suasana khas Eropa di sini,” ujar Vicente kepada SINDO di sela-sela perjalanan menjelajahi Makau, belum lama ini.
Lebih lanjut, Vicente pun menjelaskan bahwa Macao merupakan daerah administratif khusus Republik Rakyat Tiongkok yang berada di kawasan teluk besar China Selatan. “Governo da RAE de Macau adalah nama Pemerintah Makau (Governo de Macau) yang dipimpin oleh sekretariat atau komisaris yang melapor langsung kepada Kepala Eksekutif Makau. Urusan pemerintah diputuskan oleh sekretaris, yang ditunjuk oleh Kepala Eksekutif dan disahkan oleh Pemerintah Pusat Rakyat (CPG) di Beijing,” katanya.
Sebagai wilayah administrasi khusus RRC, kata Vicente, Makau memiliki tingkat otonomi yang tinggi, mengingat kebijakan “Satu Negara, Dua Sistem”. “Pemerintah Makau secara finansial independen dari CPG dalam mengawasi urusan Makau,” sebut Vicente yang pernah bertugas di Kedutaan Besar Portugis di Jakarta.
Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa pelesiran ke Makau tak perlu kebingungan untuk memilih transportasi yang bisa digunakan di sana. Dia menjelaskan bahwa Makau terdiri dari tiga pulau yang berbeda, di antaranya Pulau Macau Peninsula, Taipa, dan kepulauan Coloane.
“Yang biasa terkenal adalah Macau Peninsula, karena biasanya itu pusatnya dan terhubung dengan pulau lain dengan jembatan,” kata Vicente. Untuk bisa mengunjungi objek wisata yang ada di sana, pengunjung pun bisa mencoba menggunakan transportasi publik.
Pria pemilik nama lengkap Vicente Domingos Pereira Coutinho ini mengatakan salah satu yang bisa digunakan adalah bus. Bus-bus tersebut bisa ditemukan di mana pun dan rute mana pun, seperti dekat hotel, bandara, feri terminal, dan perbatasan ke China.
Untuk harga tiketnya, pria yang akrab dengan Jakarta ini pun mengatakan rata-rata mulai dari 3 dolar atau sekitar Rp5.000. Selain itu ada transportasi publik bus yang tidak dikenakan biaya. Biasanya bus ini mengantarkan wisatawan dari hotel satu ke hotel lainnya.
“Di Makau ada free shuttle bus dengan rute dari satu hotel ke hotel lainnya. Jadi, wisatawan bisa menggunakan free shuttle dengan memilih rute ke hotel dekat dengan tujuan wisata dan hanya dilanjutkan berjalan kaki sedikit,” sebutnya. Selain dengan bus, pengunjung juga bisa menyewa mobil di sana untuk berkeliling tiga pulau Makau.
Terakhir transportasi yang bisa Anda coba adalah becak. Bedanya dengan becak di Indonesia, pengemudi becak di Makau berada di bagian depan dan penumpang di belakangnya. Menggunakan becak, Anda bisa berkeliling menikmati pusat Kota Makau. Biasanya becak ini bisa ditemukan di Terminal Feri Outer Harbour atau dekat Hotel Lisboa.
(don)
No comments:
Post a Comment