Liputan6.com, Jakarta - Pada Sabtu 8 Desember 2018, keceriaan sekelompok bocah yang tengah asyik bermain bola teralihkan oleh keberadaan seonggok karung. Penasaran, mereka menyeret karung itu ke tengah lapang. Isinya sungguh tak terduga.
Saat dibuka, tumpukan karung terikat yang ditemukan di Duren Sawit, Jakarta Timur itu berisi kepingan e-KTP. Ditaksir jumlahnya ribuan.
Selain di Duren Sawit, temuan serupa juga terjadi pada 26 Mei 2018 di Bogor, Jawa Barat. Sebanyak satu kardus berisi e-KTP tercecer karena jatuh dari truk.
Dan, pada 11 September 2018, satu kardus terbungkus karung berisi e-KTP juga ditemukan di Kebun Bambu, Serang, Banten. Terbaru, dua kantong plastik berisi KTP elektronik ditemukan di semak-semak di Pariaman, Sumatera Barat pada 11 Desember 2018.
Polisi langsung bergerak. Penyidik Polda Metro Jaya mendalami adanya unsur kesengajaan dalam kasus tersebut.
"Case yang pertama di Duren Sawit itu ada unsur kesengajaan yang masih didalami kepolisian. Dari Ditjen Dukcapil melihat unsur kesengajaan itu ada," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo kepada Liputan6.com di Jakarta, Rabu (12/12/2018).
Ia menjelaskan, unsur kesengajaan muncul karena saat ditemukan e-KTP tersebut terbungkus karung yang kondisinya cukup baik. "Kalau misalnya itu sudah kondisi usang, patut diduga barang itu sudah tidak terpakai."
Berbeda dengan temuan e-KTP di Pariaman. Menurut Dedi, pembungkus e-KTP itu kondisinya sudah rusak. Bahkan, sebagian ada yang sudah terbakar.
"Karena Dukcapil Pariaman itu sedang renovasi, barang-barang yang tak terpakai dikumpulkan, kemudian mau dibakar di kantor tersebut tidak memungkinkan. Akhirnya diangkut dan dibuang di kebun masyarakat. Tapi masyarakat yang menemukan menjumpai, kok ternyata e-KTP ada yang kondisi utuh, kemudian dilaporkan ke polisi," ungkapnya.
Ia menyatakan, saat ini belum ditemukan tindak pidana terkait tercecernya e-KTP di Pariaman. "Karena semua orang yang membuang, mengangkut, dan atasannya juga mengetahui dan memerintahkan untuk barang-barang yang sudah tak terpakai karena kondisi kantor renovasi untuk dibuang, tapi ternyata tidak dicek dulu apa yang di dalam karung tersebut," ujarnya.
Kasus tercecernya e-KTP di beberapa lokasi yang sudah tidak terpakai itu, imbuhnya, murni tidak ada kaitannya dengan Pemilu 2019.
"Tidak berpengaruh pada DPT yang sudah diverifikasi oleh KPU. Sekali lagi, isu tercecernya KTP tidak ada kaitannya dengan pemilu dan semua ditangani kepolisian secara profesional," Dedi menegaskan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2523628/original/080108600_1544606668-Infografis_E-KTP_Tercecer.jpg)
Namun, Pengamat Politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Pangi Syarwi Chaniago menilai, kasus tercecernya e-KTP ini bermuatan politis.
"Ya kalau kita melihat ini seperti ada desain, seperti disengaja. Siapa yang melakukan itu kalau bukan penyelenggara negara? Saya sih enggak yakin itu masyarakat sipil biasa," katanya saat dihubungi Liputan6.com.
Menurut dia, kasus tercecernya e-KTP ini dapat berdampak pada Pemilu 2019. "Jadi saya pikir persoalan e-KTP dan DPT yang berlarut-larut tidak akan membuat pemilu berkualitas."
Siapa yang diuntungkan dengan tercecernya e-KTP ini, sambung Pangi, adalah pihak-pihak yang berada di luar pemerintahan Jokowi. Lawan politik capres nomor urut 01 itu bisa memanfaatkan isu carut marutnya e-KTP sebagai amunisi.
"Ini titik lemah Jokowi yang dihantam ini. Karena dianggap tidak beres, tidak mampu menyelesaikan ini. Tentu akan merusak citra Jokowi juga dan ini bisa dimanfaatkan dalam waktu yang sama bagi penantang," ucapnya.
Lebih ekstrem lagi, lanjutnya, akan muncul dugaan upaya penggelembungan suara di balik kasus ini, hingga adanya pemilih siluman. Alasannya, karena kasus penemuan e-KTP ini muncul jelang Pemilu 2019.
"Karena ini mendekati pilpres. Jadi karena menjelang empat bulan sebelum pemilu ya dimanfaatkan, digunakan lawan politik untuk digoreng juga," ujar Pangi.
Aroma politis dalam kasus penemuan ribuan e-KTP di Duren Sawit, juga tercium Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo. Namun, Tjahjo menegaskan dugaan unsur politik itu hanya asumsi awal.
"Kalau saya melihat ada indikasinya, ada unsur (politik) di sana, walau itu e-KTP sudah kedaluwarsa," ujar Tjahjo di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Timur.
Tjahjo mengatakan, untuk kepastian ada tidaknya unsur politis di balik penemuan ribuan e-KTP itu, pihaknya masih menunggu proses penyelidikan yang dilakukan aparat penegak hukum. "Ya kami menunggu hasil penyelidikan tuntas di polisi," kata dia.
Ia menduga, pelaku yang membuang ribuan e-KTP di Duren Sawit, Jakarta Timur merupakan orang yang sama dengan yang terjadi di Bogor pada Mei 2018.
"Ada indikasi orang sama yang dulu di Bogor dengan yang sekarang e-KTP tercecer di Duren Sawit, rumahnya kok berdekatan, mudah-mudahan ini bisa diungkap apa motivasinya," ujar Tjahjo.
Untuk mencegah terulangnya kasus serupa, Kemendagri akan memperketat pengawasan internal secara berjenjang. "Kami akan melakukan pencegahan agar kedua kasus tersebut tidak terulang," kata Tjahjo.
from Berita Hari Ini Terbaru Terkini - Kabar Harian Indonesia | Liputan6.com kalo berita nya kurang lengkap buka aja link yang ada disamping https://ift.tt/2Eq4EEj
No comments:
Post a Comment